Selasa, 31 Mei 2011

Detik yang sama pada Sandiwara Romansa

Dalam rentang waktu yang sama, aku dan sesamaku menjalani peran-peran sandiwara kami--para manusia.

Aku mendengarkan radio sambil mengetik di kamar kos, temanku yang lain di Kepuhharjo melayani para pengungsi, teman yang lain deg-degan hendak wawancara kerja.

Di ujung sana Ayah dan Ibuku istirahat siang di ruang TV sementara kakakku bermain gitar.

Teman yang jauh sana sedang bekerja lembur, sementara yang lain sedang mengetik skripsinya.

Sesamaku yang lain terbaring di rumah sakit karena DB, sementara seorang kakak dan 2 adiknya hiking 70 kilo.

Sesamaku yang lain berlibur dengan sodaranya, dan di waktu yang sama seorang pembawa berita menyampaikan berita terkini.

Seorang penjaga warung melayani pelanggan dan tukang parkir menata jajaran motor.

Segerombol temanku bermain di waduk gadjah mungkur, sementara sesama yang lain sedang sibuk menyiapkan hari pernikahannya.

Sesamaku ada yang menangis di dalam hatinya karena patah hati, yang lain membaca Koran sambil minum es teh.

Seorang pembantu sedang memasak dan beberapa temanku membaca jurnal penelitian.

Sesamaku yang lain mencuci pakaian dan yang lain lagi sedang mengkeriting rambutnya.

Di waktu yang sama, sesamaku berdoa dan ada yang mengikuti konferensi.

Yang lain menjemput adiknya dari sekolah.

Sesama ku yang lain memainkan piano, sementara seorang kernet bis jalur 4 menarik ongkos dari penumpang.

Seorang petani mencari rumput untuk kambingnya bersamaan dengan seorang ibu yang menyusui anaknya yang sedang menangis.

Yang lain sibuk rapat untuk program organisasi sementara petugas fotocopy melayani pelanggan.

Sandiwara kehidupan yang bermacam-macam, berwarna-warni, bervariasi, berjenis-jenis tak terhingga.

Selamat menjadi artis kehidupan ini untuk memainkan romansa sandiwara hidup. Semoga semua manusia di bumi mendapat kesejahteraan dan kedamaian hati.

Jika Bertemu Tuhan

Seorang kawan yang sedikit ‘tidak waras’ menceritakan keinginannya jika ia bertemu Tuhan.

Katanya,ia akan memelukNya dan menangis di hadapanNya hingga air matanya habis tak tersisa.

Ia mungkin kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dan merasa tenang bersamaNya.

Ia ingin mempersembahkan sebuah tarian lucu hingga membuat Tuhan tertawa terpingkal-pingkal, ingin dipelukNya dan kata yang paling mungkin dapat terucap:

”terimakasih atas segalanya”.

Cinta dan Obsesi

Aku baru akan menyebutnya sebagai frase jatuh cinta jika disana ada dua hati yang merasakan hal yang sama, dan sebaliknya, aku akan menyebutnya obsesi jika saja hanya sepihak yang merasakan jatuh cinta.

Cinta dan obsesi tipis sekali lapisan pemisahnya.

Bagiku inilah ciri jatuh cinta:

Saat kau dan dia sama2 merasakan deg2an saat bertemu, saat kau dan dia menjadi sama2 salah tingkah saat bertemu, saat kau dan dia tersenyum malu saat berhadapan, ketika kau dan dia sama saling merindukan untuk bertemu, ketika kau dan dia merasa saling tertarik untuk saling mencuri memandang, ketika kau dan dia sama-sama ingin bersama-sama.

Bagiku, inilah obsesi:

Saat kau merasa menyukainya, dan dia tidak merasakan hal yang sama. Lalu kau memproduksi cerita/karakter/bayangan mengenai dia di dalam pikiran dan perkiraan, yang mana tak selalu tepat, bahkan meleset dari gambaran tentang dia yang sesungguhnya. Saat kau mulai mengharap2kan hal-hal yang sama sekali hanya dipihakmu, dia tidak mengharapkan hal yang sama.

Saat kau mulai merasa menginvestasikan perasaan, pikiran, waktu sehingga kau merasa layak mendapatkannya. Misalnya: aku sudah memikirkannya 24 jam, aku sudah merasakan sakit krn dia berhari-hari, aku sudah menunggunya 6 tahun, aku sudah ini dan sudah itu, yang kemudian kita akan betanya dengan menuntut: semua hal sudah kulakukan, apakah lagi yang kurang?

Aku sepakat bahwa cinta datang tidak datang terlalu cepat atau terlalu terlambat, sehingga akan berlangsung tepat waktu. Jika berlangsung tepat waktu artinya kita tidak perlu ada kegiatan menunggu-nunggu seseorang krn seharusnya ia tidak terlambat hadir.

cinta hadir begitu saja yang diberikan oleh tuhan di hati kedua insan yang terlibat intrik ini. tidak dibuat2, atau diusaha-usahakan sedemikian rupa, sangat alami dan datang dengan cara yang tidak kita duga di mana, kapan, dan dengan cara apapun. Oleh karena itu, menurutku, tidak perlu ada yang disebut tebar pesona dalam bentuk apapun, karena hanya akan menjadi manipulasi cinta saja (semu)



Cinta mungkin bisa dirasakan oleh satu pihak dg tidak menuntut apapun dan rela memberi dengan percuma. Seperti kita menyanyangi seorang bayi, kita memberi tanpa punya niatan meminta balasan apapun dari bayi tersebut. Jika kita sudah mulai mengharapkan sesuatu yang kita berikan kembali, mungkin itu saudara kembar obsesi. Jika cinta, tidak ada pihak manapun yang merasakan rugi/merasa paling berkorban. Tidak perlu ada yang merasa terluka dan patah dan mulai dari situlah ini letak benci dimulai.

Aku lebih suka menanti cinta dan bukan menanti seseorang. Jika kita sedang menanti seseorang, mungkin saja kita sedang terobsesi dengan seseorang.

Karena jika kita percaya cinta hadir tepat waktu, cinta pun pasti hadir bersamaan dengan seseorang yang disebut pemilik cinta.

cinta itu indah, dan diberikan kepada setiap orang. Merasa diri sedang dicintaiNya adalah kekuatan saat menghadapi masa sulit.

*ini pengertian sementara saya tentang cinta, mungkin bisa berubah

*jatuh cinta ternyata bisa berkali-kali dalam hidup kita (add dari zadok)

Rindu Inilah

Aku lari dan mencari sebuah seragam. Seragam merah-putih pertamaku. Seragam yang kugunakan sekitar 10 tahun yang lalu. Aku membongkar seluruh isi lemari dan mencarinya dengan sekuat tenaga. Aku hampir menangis karena setelah semua kubongkar kutak menemukannya. Inilah rasa rindu. Rindu menemukan seragamku.

Kawanku mencari ibunya di dapur, di kamar tidur, di kamar mandi, di ruang tamu, di halaman dan tidak menemukan. Karena ibunya sudah meninggal sejak ia kecil. Inilah rasa rindu. Rindu bertemu ibu.

Aku ingin mengambarkan bahwa rasa rindu menyesakkan hati. Ingin bertemu, melihat, menyentuh dan berbincang jika memungkinkan. Sayangnya rindu tidak selalu segera mendapat jawaban. Lalu rindu mendekam di ulu hati, membulat bagai bola hitam yang menempel di pelipis hati. Sesak dan berat.

Inilah rindu.

Tempat Sampah

Sampah adalah barang sisa yang perlu diubah supaya menjadi berguna.
Mulai dari bangun tidur aku selalu membuat barang sisa
Aku mandi, dan mandiku menghasilkan air kotor yang kubuang ke got. Inilah sampah.
Aku menggunakan shampoo/sabun/pasta gigi yang bungkusnya adalah sampah.
Setelah itu aku berganti baju dan meletakkan baju kotor. Inilah sampah.
Aku makan, ada piring, sendok dan gelas yang kotor. Inilah sampah.
Aku bekerja dengan menghasilkan sampah. Kertas salah print, plastic bungkus alat tulis, dan bungkus-bungkus lain yang tak lagi berguna. Inilah sampah.
Kertas nota, kertas parkir, sepatu rusak, pakaian dan tas yang rusak, inilah sampah.
Gas sepeda motor, gas bis, gas taksi. Inilah sampah.

Bagimana jika air kotor sisa kita mandi, di campur bungkus shampoo, baju kotor, piring kotor, gelas kotor, sendok kotor, sepatu yang rusak, tas yang rusak, kulit jeruk, kulit melon, kulit semangka, dan sampah-sampah lainnya kita kumpulkan jadi satu sepanjang hidup kita.

Tempat sampah adalah sebuah jawaban yang menyeimbangkan hidup.
Mungkin kita adalah tempat sampah bagi yang lain, dan mungkin kita menjadi sampah bagi yang lain

Selasa, 26 Oktober 2010

Tuhan mengapa bumi tidak kotak saja?

Mengapa Kau tak buat bumi tempat ku berpijak ini kotak dan sponge bob bulat saja.
Kenapa hujan berupa air, bagaimana jika hujan berupa bunga saja.
Mengapa aku lahir dari ayah dan ibu, bisa tidak kalau aku lahir dari pohon apel?
Mengapa langit biru, bagaimana jika langit kuning dan laut merah jambu?
Apa Kau tak pernah terfikir untuk membuat rumahku dari air laut dan piring dari garam serta sendokku dari awan.
Katakan padaku kenapa pohon tidak bisa berjalan-jalan, bagaimana menurutMu jika hewan yang diam saja dan bisa berbiji?
Tuhan, coba bayangkan, bagaimana jika aku ini terbuat dari kabel, aku tidak perlu memiliki darah bukan?
Tuhan Kemari..lihatlah wajahku..bagaimana jika lidahku ini bulat dan bibirku kotak..atau kebalik ya..bibirku bulat dan lidahku yang kotak..atau bagaimana jika bibir dan lidahku keduanya kotak? Kalau air mata berupa bola pimpong mungkinkah Kau membuat demikian?
Ganti saja angin dengan kain. Setuju tidak?
Burung terbang diganti buah kelapa terbang bagaimana?
Ganti saja kambing berkokok dan ayam embek-embek.
Mengapa kau tak buat demikian saja?

Siapakah Kau itu Tuhan. Engkau membuat aku, membuat ini itu lalu Engkau sendiri terbuat dari apa? Kapan aku bisa menyentuhMu? Dimana sekarang diriMu? Di dapur, di kantor, atau di dalam taxi. Apa kabarMu? Apakah Engkau sehat? Beri tahu alamat emailMu padaku atau minimal alamat rumahMu.
Lihatlah! Ini jari-jariku, kukuku hitam, kotor dan panjang. Kalau di sekolah bu Guru akan memukul jari-jariku dengan tongkatnya. Ini pertanyaan terakhirku. Apakah Kau bersedia membersihkan kukuku dan memotong kukuku yang panjang itu?
Yang Kau lakukan terlalu istimewa bagiku, tapi tak ada yang istimewa dariku untukMu. Aku hanya membuat ini. Ini sekantong kresek air mataku. Itu karena aku terlalu sering menangis meminta ampun padaMu. Terimalah Tuhan ini untukMu. Aku menyayangiMu tapi sekaligus menghianatiMu.
MenurutMu aku ini apa?

Rabu, 06 Januari 2010

Anak Kecil

Aku adalah seorang anak kecil. Kira-kira 4 tahun.
Aku dan keluargaku berjalan-jalan melewati sebuah toko mainan.
Ibuku menggandeng tangan kiriku, dan tangan kananku dipegang erat ayahku.
Sementara itu, Kakakku berjalan berjingkrak-jingkak kegirangan di depanku.
Aku melirik boneka bagus sekali dibalik kaca toko itu.
Namun ayah ibuku menggengam tanganku untuk terus melaju maju.
Saat kami berlalu meninggalkan toko itu,
Aku menoleh melihat boneka itu.

Kami pulang dan aku lari menuju tempat tidurku.
“Tuhan, tadi aku melihat boneka bagus sekali.
Menurut pendapatku, boneka itu sangat istimewa.
Kalau Engkau berkenan, biarkan aku memilikinya,
Tapi kalau tidak, tolong aku untuk tidak menginginkan boneka itu lagi.
Tolong aku agar tetap bahagia walaupun tidak menginginkannya lagi.
Amin”


Kota Jogjakarta, 30 Desember 2009

Dr. Sugiyanto

Dr.Sugiyanto meninggal.
Seorang Dosen pembimbing Akademikku kini tidak ada lagi di bumi
Itu kabar yang kudengar beberapa menit lalu.

Beliau sangat ramah, aku disambutnya saat menjadi mahasiswa baru.
Siang itu,
Saat mataku berkaca-kaca karena aku hampir tidak bisa melanjutkan kuliah,
Beliau datang dengan sorot matanya yang teduh dan ramah.
Menggiringku dalam ketenangan,
menolongku dan memberiku rekomendasi untuk mendapat beasiswa

Aku memang tidak banyak bicara dengannya.
Tapi, Aku kagum padanya.
Dia pintar, sederhana dan bersahaja.

“kamu sudah lulus?’ sahutnya pada saat terakhir aku bertemu dengan beliau.

Dr.Sugiyanto meninggal.
Kira-kira lima menit sebelum kudengan kabar itu, aku mengeluh ” Aku bosan hidup”. Sungguh aku bosan dengan dunia dan tidak ingin melakukan apa-apa.
Kini, aku sangat malu pada diriku. Pak Gi pergi setelah memberi makna pada banyak orang, dan padaku.
Aku? Aku belum apa-apa.
Tuhan, sampaikan salamku untuk Pak Gi. Katakan padanya, aku sangat berterimakasih pada teladannya.
Jogja, 23 Desember 2009

Kristal Yang Kutemukan

Warnanya bening, dan terbuat dari kristal
Tidak begitu besar, hanya sebesar bola bekel
Dia bisa bersinar kalau kau genggam selama kira-kira 15 detik
Dia akan bersinar hijau jika kau ingin hijau, atau kuning jika kau ingin kuning
Menjadi jingga jika kau ingin jingga
Sangat ajaib dan ini rahasia
Tidak boleh ketahuan siapa-siapa

Aku menggengamnya kemana-mana
Lalu melihatnya dengan senyuman paling manisku
Karena aku sangat girang sekali menemukan Kristal ini

Beberapa waktu kemudian aku terkejut
Bola Kristal itu semakin hari semakin bertambah besar
Sekarang tak bisa ku genggam, tanganku sudah tidak cukup lagi
Aku mulai cemas, takut ketahuan orang lain

Kini kedua tanganku pun tak cukup untuk menggengamnya
Bola Kristal itu makin berat
Kedua tanganku tak bisa melakukan pekejaan lain,
kecuali memegang bola itu

aku berkeringat kelelahan, berat sekali
tanganku pegal dan sangat capek

“Ayah…! ,” rengekku sambil mengadu betapa beratnya bola ini
“lepaskan bola itu nak, terlalu berat untukmu,” sahut Ayahku dengan matanya yang teduh
“Ayah, mana mungkin aku melepaskan Kristal ini. Aku sangat menyukainya,” pintaku minta belas kasihan Ayah
‘Buang bola itu, dan datang padaKu, Ayah akan mengganti dengan yang baru,” ucapnya sambil berlalu

Aku makin tak kuat menahan, kriatal indah itu tetap bersinar dan makin berat
“Ayaaaaaaaaahh…!!!, “ aku berteriak kencang memekikkan dunia
Aku menangis meraung-raung tak karuan dan membanjiri pipiku dengan air mata

Ayah menengokku, dan kembali datang menghampiriku.
Dia membuka kedua tanganya menyambutku
Aku yang masih kecil, berlari menghampiri Ayahku dan memukul-mukul lengan tangannya
Aku sangat kecewa sekali dan merasa tidak terima
“Kristalku kulepas, jatuh, pecah dan tak bersisa,”kataku sambil meraung keras. Aku lari mengadu padanya.

Ayah menggendongku dan membiarkan kepalaku ada di pundaknya
Aku Menangis sepanjang jalan di pundaknya
Dan Tanganku menggenggam erat bajunya

Cinta bagaikan bola Kristal kecil, yang lama-lama menjadi besar jika kau pelihara
Kadang2 akan menjadi berat untuk kau tanggung saat ini
Lepaskanlah Kristal itu, supaya tanganmu tak kelelahan menahannya
Gunakan tanganmu untuk memegang Yang Kuasa, karena akan lebih aman dari pada kau tanggug sendirian.

“Ayah tahu mana yang pantas untukmu. Kamu percaya kan?
Aku menggangguk sambil terisak sambil di gendong Ayahku

Keindahan kelemahan!

aku menghela nafas panjang untuk banyaknya keteledoranku, ketidakdisiplinanku, sembrono dan kacau. mungkin orang lain biasa menyebutnya sebagai sesuatu yang dinamai DOSA. 4 huruf yang sering menjatuhkanku pada lubang yang dalam dan gelap seperti sumur. Kalau sudah dalam kondisi seperti itu, aku benci sekali dan kecewa pada ‘aku’.
‘ealah..lagi lagi aku bikin salah. .yak ampun, aku ini manusia apaan sih?? “sahut si ‘aku’ di depan cermin. ‘uhh…bodoh!! Kamu kayak keledai!,’ lanjut si ‘aku’ memarahiku.
Lalu aku mengadu pada seseorang yang bernama Zadok. “Kak sari, kelemahan kita adalah keindahan’ ucapnya tanpa menatapku. Aku mengerenyitkan dahi sambil mengaktivkan otak kiriku. “how come?” Tanya si ‘aku’. Setelah berbagi dengannya, aku dapat menyimpulkan seperti ini:
Hmmp…kelemahan itu memang keindahan kehidupan. Karena kelemahan itu aku punya banyak alasan untuk:
1.Merasakan hidup yang penuh tantangan, diriku ditantang untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Artinya: tiap2 hari adalah kesempatan emas untuk aku tidak di sebut ‘keledai’. Hari ini gagal, coba lagi..coba lagi..lagi lagi..tak ingin berhenti sampai ‘keledai’ itu koid!! Dan menanti hari untuk mengatakan: Mati kamu keledai!!!
2.Aku ini tidak lebih baik dari siapapun juga, jadi tak pantas menghina atau terlalu berbangga dengan diri sendiri.
3.Membuatku untuk Mengandalkan Tuhan dalam tiap-tiap hari (awas! Jangan mati ketimbun kelemahan2 itu nak..)
4.Membuat kita untuk Tidak berlaku sombong baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. (Apa sih yang bisa kamu sombongkan hai manusia? )
5.Tidak menuntut orang lain untuk selalu berlaku benar (menerima orang apa adanya) no bodies is perfect kan?
6.Semakin hati-hati dan waspada (don’t you over estimate to yours self guys!). mengganggap diri kita ini ‘kuat’, disitulah akar kelemahan bercokol
7.Semakin menyadari betapa aku sama sekali tak sempurna, membutuhkanNya untuk menyempurnakan selalu.
8.Memaafkan orang yang tlah mengecewakan, atau yang menyakiti kita, dengan berfikir : orang tersebut sedang mungkin lemah saat mengecewakan atau menyakiti diri kita. Seperti halnya aku yang juga masih sering mengecewakan dan mnyakiti orang lain tanpa kusadari sepenuhnya..
9.Mencintai belajar dan proses kehidupan yang panjang. berterimakasih kepada siapapun yang silih berganti mendidikku. Karena kelemahanku itu, membuatku untuk mau belajar dari kehidupan orang lain. And oh wow..apik sekali Tuhan mengukir hidup tiap-tiap orang itu ya? Delicious!
10. kelemahan yang kumiliki semakin meyakinkanku bahwa ku sangat membutuhkan orang lain dan tidak boleh meremehkan orang lain sama sekali.
Kelebihan hanya separuh keping saja, separuh sisanya dilengkapi oleh kasih kebaikanNya yang menjadikannya sempurna.

Si Budi dan Si Ponijan

Kami adalah pengagum Si Budi dan Si Ponijan. Mereka berdua tampak hebat di mata kami. Pikiran, tenaga, dan perasaan habis terkuras untuk Budi dan Ponijan.
Muncul pandangan, bahwa Aku dan temanku itu tergolong dalam kaum inferior sementara Budi serta Ponijan sadalah kaum superior. Dalam otak kami, tercuat bahwa orang yang dikagumi disebut kaum Superior, dan orang yang mengagumi di sebut kaum Inferior.
Kami, si inferior tampak lebih bodoh, cemas, gelisah, tidak seimbang, tidak tenang, tidak fokus, cenderung mudah menangis, dan kadang-kadang ada ketakutan. Kaum inferior hanya memandang dari jauh. Sesekali kami menutup mata dengan kedua telapak tangan kami yang lentur, artinya telapak tangan tidak bisa benar2 menutup mata kami. Dalam ketakutan sesekali kami mengintip dengan menggeser jari-jari yang menghalangi bola mata.

Lalu kami memutuskan sesuatu. Kami membuat ‘sesuatu’ dengan semangat yang besar, untuk diberikan pada si Budi dan ponijan. Kami memikirkan tetang ‘sesuatu’ itu dengan sungguh2 dan perhitungan yang matang. Berbulan-bulan di persiapkan. Terus Menimbang-nimbang apa yang akan diberikan, kapan waktu nya, bagaimana caranya,dimana dan tetek bengek lainnya.
Dengan senang hati kami memberikan ‘sesuatu’ tersebut untuk si budi dan ponijan. Lalu mereka akan bilang begini,’wah, terimaksih sekali, kok malah repot-repot”.
kami tersipu-sipu malu menerima terimakasihnya, lari dengan girang dan sembunyi. Dari belakang tempat persembunyian, sambil terus mengintip si Budi dan ponijan itu.
Sementara kami mengintip, si Budi dan Ponijan melaju melanjutkan hidup mereka. Mereka berkembang dan berkarya dalam hidup mereka. Kami mengamati dan melihat mereka melakukan hidup. Kami ini adalah manusia hidup, yang melongo melihat orang lain melakukan hidup.
Sementara kami diam, aku berkata:
‘Aku tidak suka menjadi Inferior Sita. Kayak orang Bodoh begini. Aku ingin lepas dari kungkungan ini!’ teriakku dalam hati
‘bagaikan dua lingkaran. Ingin membentuk irisan antara dua lingkaran itu, tapi tak mampu Sari” jelasnya padaku.

Lalu kami menyadari bahwa kami bukan kaum inferior. Kami adalah kamu superior, yang memilih memberi dari pada sekedar menerima.
Terkahir, kami saling menyematkan diri, bahwa kami adalah pahlawan. Yang dengan rela hati menaggung rasa sakit dan rasa malu karena mencintai terlebih dahulu. Tidak enak rasanya. Tapi jalan ini sudah kami tempuh. Dan tidak akan pernah menyesal karena mencintai.

1 November 2009

Ambilah Perasaanku

Suatu hari aku bilang pada Ibuku: “ibu aku jatuh cinta”. Aku menceritakan bagaimana aku bisa jatuh hati pada seseorang itu. Ibuku mendengarkanku sambil senyam-senyum di sore itu. Aku membisikkan nama lengkap seseorang itu ditelinga ibuku. Aku ingin beliau hafal nama orang itu supaya membawa nama orang itu di dalam doa malamnya. Ibuku hanya senyam-senyum geli dengan bisikanku.
‘tapi percuma saja kamu suka, kalau dia tidak menyukaimu bagaimana??” tanya ibuku menggodaku. “peduli amat dia suka atau tidak suka, peduli amat dia tahu atau tidak tahu, yang penting aku suka dia” begitu jawabku dengan bangga. karena keinginanku kuat, ibuku menyerahkan keputusannya padaku. Aku senang dan menikmati perasaan jatuh cinta itu. aku menyukai perasaan ini. sangat suka sekali^_^
Kini berbeda. Aku ketakutan dengan perasaan yang kumiliki. Setiap hal, setiap saat, setiap keadaan yang kualami di otakku selalu ada orang itu. Tenaga, waktu, perasaan, dan energi tercurah pada orang itu. Bahkan orang ini selalu tetancap di otakku, sementara Tuhan menjadi terabaikan.
“ambilah perasaanku malam ini jika menggangu hubunganku denganMu ya Tuhan”,renggekku pada Tuhan.
Aku memejamkan mata malam itu. Semoga saja besok pagi saat aku bangun, aku tidak ingat kalau aku sedang jatuh cinta.
Ibuku pasti sedih mendengar kabarku ini.

Siraman,29 Juli

01.19 WIB

Senin, 21 Desember 2009

Ingin Menjadi Burung Camar

Jika aku diciptakan menjadi hewan
aku menyebutku si Burung camar

aku lincah dan ceria
penuh semangat dan bersukaria

pagi hari aku kan membangunkan pak tani dengan siulan menawanku
membangunkan bapak Tukang pOS dengan kepakan sayapku yang lincah
membuat pagi mereka siap untuk dilewati dengan mantap

aku ingin bebas seperti burung camar
terbang ke langit, ke awan biru dan bertengger di lengkung pelangi
aku ingin tak terbatas seperti burung camar
melihat sungai, sawah hijau, dan pantai indah
kapan pun aku mau

aku ingin menjadi burung camar
yang tidak ada seorang pun yang memasukanku dalam sangkar
aku bermain cakrawala di sore hari
aku melayang mengalun beriringan dengan angin pantai
mengejar senja yang berwarna marun

aku kecil
tapi aku tidak lemah

andai aku burung camar
aku tak pernah menangis, tak ada burung yang mengeluarkan air mata
aku akan terus berkicau merekahkan hari-hari makhluk di dunia

sungguh, saat ini aku ingin berubah menjadi burung camar

Senin, 26 Oktober 2009

Aku kehilangan kekuatan

Aku merasa seperti peri yang tongkatku tidak lagi berguna
Atau seperti doaremon yang kehilangan kantong ajaib
Aku seperti seorang pengajar yang lupa semua materi ajar
Atau seorang penjahit yang lupa caranya menjahit dan menghidupkan mesinnya
Aku mati rasa dan tidak percaya pada diriku

Kekuatanku terasa hilang ditelan bumi
Tanganku, kakiku tak bisa kuandalkan

Aku membayangkan diri ku :
membenturkan kepala di pojok tembok
Aku berharap tiap benturan akan memberiku energy
Tapi toh, sampai kepalaku hancur pun, Kekuatan itu tidak muncul
Seperti dawai gitar yang putus, begitu kira-kira harapanku putus

Aku mencoba berjalan dan meloncat-loncat
Berlari ke kanan, berlari kekiri
Berlari satu kaki dengan kepala miring,
Berlari sambil kepala miring ke kanan
Semua cara sudah kucoba toh percuma

Aku menepuk-nepuk wajah, menyiram diriku dengan air es
Mencelupkan kepalaku di air panas pun, tidak ada perubahan

Aku coba cara lain.
Aku tidur dilantai
Aku tidur di kolong tempat tidur
Aku coba tidur di dapur
Bahkan aku tidur di jalan raya pun
Aku tetap lemah

Aku makan nasi yang banyak,
makan mie bermangkuk-mangkuk
Aku minum air dingin, minum air panas
Makan sambal sangat pedas pun
Hatiku tetap tak tenang

Aku tidak berdaya dan lemah
Aku tidak tahu bagaimana supaya aku mendaat kekuatan itu
Seluruh kekuatanku habis hilang dan menguap

Ingin sekali aku mencium kaki Tuhan
Mengusap punggung kakiNya dengan pipiku yang sembab
Cara itu yang membuatku tenang

Jogja, 19 Juni 2009_01.27 WIB

Adalah Waktu

aktu adalah suatu misteri yang dalam
Waktu diciptakan Tuhan dan pemberian sejati ciptaanNya
Waktu akan terus berjalan seperti aliran sungai yang terus berjalan
Waktu tidak dapat di ulang, kehadiran dan perubahannya adalah sesuatu yang pasti
Waktu memiliki dimensi dan diberikan pada tiap makhluk dengan jumlah yang sama
Waktu adalah kualitas hidup
Waktu adalah memberi
Waktu adalah menerima orang lain
Waktu adalah menolong
Waktu adalah mengasihi
Waktu adalah kejujuran
Waktu adalah memaafkan
Waktu adalah harapan
Waktu adalah kebesaran hati
Waktu adalah ketulusan
Waktu adalah senyum yakin
Waktu adalah berjuang
Waktu adalah membangun kekuatan
Waktu adalah menghormati
Waktu adalah kesabaran
Waktu adalah mengerjakan tanggungjawab
Waktu adalah menyembahNya
Waktu sama sekali bukan uang
Uang tidak dapat membeli waktu, uang hanya bisa membeli jam tangan

Kumatikan Lampu KAmar

Aku memegang buku
Membuka-bukanya sekilas
Lalu meletakkannya
Au membuka isi tas ransel hitam
Melihat-lihat barang bawaanku
Mengotak-atik, lalu ku melepaskannya

Aku beranjak dari tempat tidurku, aku duduk di kursi
Kursi itu terletak tepat di depan meja belajar
Duduk dengan kaki diangkat satu
Lalu kuletakkan kedua-duanya di lantai
Setelah itu, aku berdiri, merapikan bantal dan guling di kasurku
Lalu duduk di atas kasur dan,
Kuambil hand out kuliah
Mataku tertuju pada dompetku..
Kuletakkan hand out kuliah itu dan memegang dompet putihku
Aku mengeluarkan seluruh isinya
Merapikannya satu –satu, uang kertas dan uang receh
Tapi hatiku beranjak,
Aku ingin segera membuka buku Randy Pope
“Finding Your Million Dollar Mate”
Kusentuh buku biru itu
Buku Hadiah dari seorang kakak padaku
Membuka buku itu sebentar,
mengingatkanku untuk membuka sms
kuraih HP di meja belajarku dan kubuka menu
tidak ada pesan untukku

aku ingin membuka tas lagi
melihat barang-barang yang kubawa, mengamatinya satu-satu
lalu memasukkannya kembali

kutengok di meja, binder hijauku terletak di sana
aku buka tiap-tiap halamannya, mencari yang kosong
aku memulai menulis sesuatu

Aku tampak bodoh dan lemah,
tidak bisa fokus dan tidak bisa tenang

kumatikan lampu kamar, lalu menangis sampai tidur
“ternyata jatuh cinta itu menyiksa,” gumamku

Minggu, 10 Mei 2009

Kalau saja..

kalau saja
Aku bisa memeluk dan menenangkan seseorang yang menyaksikan dengan matanya sendiri ketika Ayahnya kecelakaan yang kepalanya pecah..

kalau saja,
Aku bisa menguatkan orang yang tidak punya ayah dan ibu yang hidup sendirian di bumi

kalau saja,
Aku bisa menolong seorang remaja yang ketakutan karena diperkosa dan kehilangan keperawanannya dengan paksa

kalau saja,
Aku bisa memanjangkan harapan teman yang menangis pilu karena kekasihnya yang memilih oranglain daripada dia

Kalau saja,
Aku bisa memahami seorang Ayah yang menyesali anaknya bunuh diri karena dia seorang yang cacat mental

Atau kalau saja,
Aku bisa merasakan sakitnya seorang suami yang istri dan anaknya meninggal saat proses kelahiran

kalau saja mulai saat ini,
aku bisa lebih merasakan, memahami dan mengerti apa yang orang lain alami,
aku tidak akan pernah menyesal menghabiskan waktu kuliahku selama ini..

Semangatlah diriku!!

13 Oktober 2007

Berbicara dengan Patung Doraemon

Sewaktu aku masih kecil, aku senang sekali bermain di sebuah taman. Tiap sore orang-orang bermain di tempat itu. Tua, muda, anak-anak, bahkan para remaja yang berpacaran juga berada di taman itu. Taman yang terletak di jantung kota itu menjadi tempat favorit banyak warga masyarakat kota.

Ibuku baru mengijinkanku main di taman itu kalau aku sudah mandi dan berjanji mau makan lebih lahap nanti. Saking girangnya, aku berani berjanji untuk makan dua kali lebih banyak dari pada biasanya. Kesepakatan yang hebat, Ibuku suka aku makan banyak, dan aku untung berkunjung ke taman itu.

Di taman itu ada tempat favorit yang kupilih sejak masih di rumah. Akan kuceritakan tempat itu padamu. Letaknya di ujung taman sisi paling utara. Ada sebuah patung bagus. Kamu pasti suka. Dia patung Doraemon. Setiap kali aku kesana aku memandanginya dan mengelus-elus perut ajaibnya.

" Doraemon…" kataku pelan. Dia tidak berbicara
" Doraemon aku punya koin, apa kau bisa mengubahnya menjadi donat?" tanyaku
" Doraemon ..aku ingin bersahabat dengamu" pintaku

Aku memandanginya dan melihat matanya beberapa saat. Dia tetap diam. 10 menit. 20 menit. Aku menunggunya, tetap saja dia tidak berbicara apa-apa. Mataku mulai berkaca-kaca dan akhirnya aku menangis dengan menepuk-nepuk kakinya.

" Ibu, aku hanya ingin bersahabat denganya!" tangisku merengek. Aku ingin dia berbicara. Ibuku menolongku, dan mengajakku duduk manis di bawah patung itu. Katanya aku harus menepati janji ku biar aku bisa bersahabat dengannya. Aku harus makan dua kali lebih banyak. Padahal aku paling tidak suka makan wortel. Setiap kali suapan yang diberikan Ibu, aku memejamkan mata sambil menangis. Sayur wortel sangat tidak enak, tapi aku harus menghabiskan semuanya. Sangat menyiksa. Tapi kupikir tidak apa-apa asal Doraemon itu mau bersahabat denganku.

Seperti anak kecil yang berharap pada patung Doraemon itu menjadi sahabatnya,
begitulah ketika kita berharap kepada seseorang tetapi dia tidak berbicara apapun pada kita.
Kamu harus siap menaggung resikonya, bahkan jika harus makan dengan sayur wortel yang tidak kamu suka. Ada luka yang harus dibayar.

" Doraemon, semoga suatu saat kamu mau bersahabat denganku" ucap anak itu tersenyum sambil lari meninggalkan taman. Anak itu menuju arah Ibunya. Ibunya menyambut dengan pelukan dan menggendongnya dengan hangat.

Lendir Cemas

Cemasku mulai datang dan mondar mandir di ulu hati..
Berjalan Ke kanan ke kiri tak karuan
Cemasku terkoyak dan melonjak seperti air yang tumpah dari gelas kaca

Cairan cemas itu berwarna bening dan seperti lendir
Aku jijik melihatnya..
Terlebih dari jijik, cairan itu juga mengalir mengintari pusaran hatiku menjerat dan melilit pembuluh darah.
membuatnya menjadi berontak dan berdetak tak karuan
tiap dentuman detak itu terasa sakit dan menyiksa
seperti balon udara yang pecah meletup keras di udara


Jika mampu, ingin kumuntahkan saja cairan cemas tak berguna itu ke tempat sampah

Sungguh tidak aman bagiku untuk tinggal dalam kecemasan.
Lendir cemas ini mengintariku sampai pagi menjelang

Mencari bijaksana dalam diri- Based On “ Double Your Brain Power”

Kamu puya masalah? Kamu binggung? Tidak ada yang membantumu?

Duduklah di tempat privasimu- tutup mata dan bayangkan kau sedang berjalan didalam hutan yang rindang (Visualisasikan dengan sangat lengkap)- sampailah di sebuah rumah dipedalaman dan kau membuka pintu rumah itu- pemilik rumah itu memberimu nasehat - dengarkan nasehatnya dengan sangat seksama- dan kau pun menuliskan nasehat-nasehat itu di dalam bukumu.

Supported by: Denis, danang, nadvi, rio, dan abi (kakak2 Psyche 04)

 
Powered by Blogger